Bedah Buku : Strategi China Merebut Superpower

September 27, 2018 oleh : admin

Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mengadakan seminar bedah buku yang bertajuk “Strategi China Merebut Superpower”, karya dari Prof. Bambang Cipto, pada Hari Kamis, tanggal 27 September 2018. Acara ini dihadiri oleh sejumlah mahasiswa master dan dosen Ilmu Hubungan Internasional. Prof. Bambang Cipto, menyampaikan bahwa China merupakan “The Sleeping Giant” dengan potensi negara yang begitu besar. Pembangunan China yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir di tengah-tengah kemerosotan Amerika adalah hal yang menarik untuk didiskusikan.

 

“Appear weak when you are strong, and strong when you are weak.” Adagium dari Tsun Zu tersebut telah menginspirasi kebangkitan China. Walaupun China memiliki potensi yang kuat, namun China memilih untuk menggunakan pendekatan-pendekatan non-militer, yang disebut oleh Presiden Xi Jinping sebagai “Peaceful Rise”. Perkembangan politik global telah menjadikan perdebatan antara kapitalisme dengan komunisme tidak lagi relevan. China dalam beberapa dekade telah menjadi negara kapitalis namun tetap mempertahankan kultur China. Prof. Bambang mengutip strategi Deng Xiaoping, “It doesn’t matter whether a cat is black orwhite, as long as it catches mice.”

 

Populasi China yang melebihi satu milyar penduduk menjadi pasar yang fantastis bagi perusahaan-perusahaan asing, terutama produk-produk yang terkait dengan teknologi. Walaupun demikian, strategi China untuk menerapkan alih teknologi sebagai bentuk timbal balik dari keterbukaan terhadap pasar internasional, justru membuat China mampu menyerap teknologi. Huawei kini menjadi salah satu dari produsen smartphone terbesar di dunia, produksi drone di China juga sangat tinggi, dan teknologi transportasi cepat (hypersonic) yang sangat maju. Tidak hanya itu, dalam bidang pendidikan, China juga sangat terdepan, banyak beasiswa yang dikeluarkan oleh pemerintah, serta jumlah publikasi ilmiah yang tinggi, bahkan melebihi Amerika Serikat.

 

Dr. Sidik Jatmika menambahkan, bahwa kebangkitan China tidak hanya disebabkan oleh kemajuan teknologi dan ekonominya. Karakter masyarakat yang tekun dan mobilitas yang tinggi, legitimasi pemerintah yang kuat (politik domestik yang stabil), kepemilikan tanah oleh negara, serta infrastruktur yang unggul. Sebagai pelengkap dari pemaparan Prof. Bambang, Dr. Sidik Jatmika menyampaikan bahwa China juga memiliki sisi gelap yang seringkali dikritisi, seperti isu seksualitas, religiusitas, One Child Policy, serta masalah lingkungan (tingkat polusi udara yang tinggi). Walaupun demikian, Indonesia dapat belajar banyak hal dari China, terutama terkait dengan penegakan hukum bagi elite pemerintah yang korup.