Milad Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang ke-38 dirangkaikan dengan berbagai kegiatan untuk memeriahkannya. Salah satu kegiatan itu adalah Book Expo dan Book Discussion yang berlangsung selama dua hari, 28 Februari sampai 1 Maret 2019. Book Expo berlangsung di lantai dasar gedung Pascasarjana UMY, sementara Book Discussion berlangsung di ruang Amphiteater, lantai 4 gedung Pascasarjana UMY.

Salah satu buku yang didiskusikan atau dibedah adalah buku dengan judul Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam, karya Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Buku ini adalah buku yang merangkum kegelisahan Buya dalam melihat dunia Islam saat ini, terutama di dunia Arab.

Dalam diskusi yang berlangsung pada tanggal 1 Maret tersebut, Buya Syafii, demikian sapaan akrabnya, mengatakan bahwa “Dunia Arab sedang berselancar di pinggir peradaban dunia.” Hal ini diungkapkan oleh Buya Syafii karena sampai saat ini, termasuk setelah bergejolaknya The Arab Spring 2010 lalu, dunia Arab tak pernah keluar dari konflik, bahkan terperangkap pada kotak-kotak politik yang menyejarah. Kotak-kotak yang dimaksud oleh Buya itu adalah lahirnya aliran Syiah dan Sunni dalam sejarah Islam yang sampai saat ini masih terus berseteru, terutama di kawasan Timur Tengah di mana keduanya masing-masing merasa benar.

“Islam dikatakan dalam Al-Quran sebagai pemenang, tapi miris kenyataanya sekarang semenjak Nabi wafat banyak perang saudara dikarenakan haus politik akan kekuasaan. Politik berkotak-kotak memecah belah Islam, agama dijadikan sebagai senjata politik, menyeret Tuhan ke dalam kebencian serta politik kotor pemilu. Ini sangat memprihatinkan dan sangat disesalkan,” ungkap Buya Syafii dalam bedah buku buku tersebut yang digelar sebagai rangkaian acara Milad ke-38 UMY.

Lebih lanjut Buya Syafii menyoroti sikap orang Islam Indonesia, atau Islam non-Arab. Menurut Buya Syafii, Islam non-Arab kadang tidak bisa membedakan mana Islam Qur’ani, Islam profetik, dan mana Arabisme. Salah satu yang disinggung oleh Buya dalam bedah bukunya tersebut adalah sosok Mohammad Bin Salman (MBS) yang memenjarakan banyak keluarganya hanya karena persoalan kekuasaan, bahkan rela membunuh jurnalis senior Jamal Kashoggy karena dianggap mengganggu kekuasaan MBS dengan tulisan-tulisannya. Secara tersirat Buya hendak mengatakan bahwa itu perilaku MBS sebagai orang Arab dan manusia, bukan Islam.

Seturut Buya, Politik kekuasaanlah yang menjadi faktor utama mengapa Arab waktu itu mengalami kehancuran dalam mempraktikan nilai-nilai Islam dengan membangun peradaban negara di atas mayat saudaranya. Sebagai sejarawan, Buya hendak mengajak kita belajar dari sejarah dengan mengatakan bahwa “Jangan sampai Indonesia seperti itu, merupakan kepahitan yang amat dalam jika terjadi,” tuturnya.

Hadir sebagai pembicara pembanding (Pembedah) dalam diskusi kali ini adalah Prof. Dr. Tulus Warsito, M.Si., Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional UMY dan juga Magister Ilmu Hubungan Internasional UMY. Yang bertindak sebagai moderator adalah Dr. Ahmad Sahide, S.IP., M.A., Sekretaris program Studi Magister Ilmu Hubungan Internasional UMY.