Isu politik di Timur Tengah memang selalu menjadi hal yang menarik untuk dikaji, salah satunya adalah dinamika politik yang terjadi di Libya. Sejauh ini, mahasiswa hanya terpaku dengan berita yang beredar di media, maka dari itu Magister Ilmu Hubungan Internasional mengadakan MIHI Lecture Series yang bertajuk “Political Dynamic in Libya after Qaddafi” pada tanggal 16 Maret 2019, bersama Mohammed Alhadi Khalil dari Universitas Misurata, Libya.

Mohammed Alhadi Khalil menjelaskan, bahwa kondisi di Libya saat ini secara garis besar, jauh lebih baik dibandingkan dengan era Qaddafi, terutama pada aspek ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Sebagai negara penghasil emas hitam (minyak bumi), Libya seharusnya dapat menjadi negara yang maju. Namun hal itu sulit untuk dicapai ketika Libya di bawah pemerintahan Qaddafi.

Kini masyarakat Libya tidak harus lagi membayar pajak yang begitu mahal. Masyarakat dapat mengakses listrik, pendidikan, air, kesehatan, serta sejumlah kebutuhan mendasar lainnya secara gratis. Setiap orang pasti akan merasa bahwa Libya kini semakin sejahtera.

Dari aspek keamanan, pemerintahan Qaddafi sangat menjamin keamanan masyarakat dengan baik. Bila anda meninggalkan mobile phone anda dijalan, anda pasti akan menemukannya di kantor polisi, Khalil menceritakan tentang terjaminnya keamanan Libya semasa Qaddafi.

Kebebasan berpendapat sangat dibatasi pada era Qaddafi. Masyarakat juga tidak diperbolehkan untuk membentuk partai. Qaddafi memang memiliki misi untuk menjadikan Libya sebagai negara yang demokratis, tapi kenyataannya tidak demikian.

Libya masih memiliki permasalahan yang harus diselesaikan, salah satunya adalah perpecahan antara West-Libya dengan East-Libya. Kendati demikian, tahun 2019 ini merupakan momen penting bagi rakyat Libya untuk memilih presiden yang akan menyatukan Libya.