Sebuah kesempatan dan kehormatan bagi Program Studi Magister Ilmu Hubungan Internasional, (MIHI), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, apabila bisa melaksanakan sebuah kegiatan pengabdian masyarakat sebagai bentuk tanggungjawab Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus Catur Dharma bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM).

Pengabdian masyarakat ini mengambil tema”Membangun Kesadaran Dini Masyarakat Dalam Pengelolaan Konflik Sosial Keagamaan pada Organisasi Kemasyarakatan Muhammadiyah, Aisyiyah dan Pemuda Muhammadiyah Balecatur, Gamping, Sleman, Yogyakarta.” Dengan bekerja sama dengan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) dan Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Desa Balecatur, Kec. Gamping, Kab. Sleman, Yogyakarta, MIHI UMY berusaha mengukur dan membangun kesadaran dini masyarakat khususnya yang tergabung dalam kedua organisasi tersebut dalam aspek kewasdaan konflik antar organisasi keagamaan.

Hal ini juga didukung oleh sistem informasi konflik yang sudah didesain Prodi MIHI di bawah pimpinan Dr. Surwandono dan anggota peneliti seperti Dr. Ahmad Sahide, dan Dr. Ali Maksum. Dengan menggunakan teknologi informasi, sistem ini dinamakan Sistem Deteksi Dini Konflik. Dalam program pengabdian masyarakat ini juga didukung penuh oleh institusi khususnya Lembaga Penelitian, Publikasi & Pengabdian Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (LP3M). Pengabdian ini juga melibatkan staff MIHI misalnya Tholhah, MHI dan Ibu Laila Hayati.

Hasil dari pengabdian masyarakat, maka terdapat beberapa hal yang perlu untuk dipertimbangkan dalam proses pemberian intervensi pengetahuan baru kepada masyarakat. Pertama, ada sebuah pandangan umum dari masyarakat bahwa konflik sebagai hal yang dinyaman untuk diungkapkan dan tidak elok diperbincangkan dalam issue keorganisasian berbasis keagamaan. Konflik ada kecenderungan dipersepsi secara buruk oleh masyarakat, sehingga proses mempelejari etika berkonflikpun kurang mendapatkan respon yang memadai.

Kedua, penyampaian gagasan  baru tentang deteksi dini konflik melalui internalisasi gagasan berkonflik secara sehat dan islami menjadi penting. Ada kecenderungan pelaksanaan konflik yang tidak dilandasi narasi hidup berdampingan secara damai dan terus-menerus, hanya akan menghasilkan pola relasi menang dan kalah yang bersifat iritatif dan kronis.

Ketiga, pilihan menempatkan agen perdamaian dari organisasi social keagamaan merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas organisasi keagamaan menjadi kelompok pro-perdamaian di tengah kompetisi social politik yang mengajak organisasi keagamaan menjadi partisan dalam konflik sosial dan politik.